Pernahkah Anda memperhatikan nomor lantai saat berada di hotel, apartemen, rumah sakit, atau gedung perkantoran? Jika diperhatikan dengan saksama, ada beberapa gedung yang memiliki susunan lantai yang cukup unik. Setelah lantai 3, nomor berikutnya bukan lantai 4, melainkan langsung lantai 5. Bahkan, ada juga gedung yang mengganti angka 4 dengan huruf "F" atau kode lain. Bagi sebagian orang, hal tersebut mungkin terlihat seperti kesalahan dalam penomoran. Namun, sebenarnya keputusan untuk tidak menggunakan lantai nomor 4 dilakukan secara sengaja. Fenomena ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan masih banyak diterapkan di berbagai negara hingga saat ini. Lantas, mengapa banyak gedung tidak menggunakan lantai nomor 4? Apakah ada alasan teknis dalam pembangunan, atau justru berkaitan dengan kepercayaan masyarakat? Berikut penjelasan lengkapnya. Alasan paling umum mengapa banyak gedung tidak menggunakan lantai nomor 4 adalah karena adanya kepercayaan budaya yang berkembang di beberapa negara Asia, terutama China, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Singapura, hingga sebagian wilayah Malaysia. Dalam budaya Tionghoa, angka 4 dianggap membawa kesialan. Hal ini bukan karena bentuk angkanya, melainkan karena cara pengucapannya. Dalam bahasa Mandarin, angka empat diucapkan "sì", sementara kata yang berarti "mati" diucapkan "s?". Keduanya memiliki pelafalan yang sangat mirip sehingga angka 4 sering dikaitkan dengan kematian atau hal-hal yang dianggap kurang baik. Kepercayaan tersebut dikenal dengan istilah tetraphobia, yaitu ketakutan atau keengganan terhadap angka 4. Meski tidak semua orang mempercayainya, budaya ini telah mengakar cukup kuat dalam kehidupan masyarakat sehingga turut mempengaruhi berbagai aspek, termasuk dunia properti. Karena alasan tersebut, banyak orang merasa kurang nyaman jika tinggal di rumah, apartemen, atau kamar hotel yang menggunakan angka 4. Bahkan, ada yang sengaja menghindari membeli unit dengan nomor tersebut karena khawatir akan membawa nasib buruk. Industri properti sangat bergantung pada minat pasar. Pengembang tentu ingin memastikan bahwa produk yang mereka tawarkan dapat diterima oleh sebanyak mungkin calon pembeli atau penyewa. Jika sebuah gedung berada di wilayah yang mayoritas masyarakatnya masih memegang kepercayaan terhadap angka tertentu, pengembang biasanya akan menyesuaikan penomoran lantai agar lebih mudah diterima oleh pasar. Sebagai contoh, daripada tetap menggunakan lantai nomor 4 yang berpotensi membuat sebagian calon pembeli ragu, pengembang lebih memilih langsung melompat ke nomor 5. Dengan cara ini, mereka dapat menghindari persepsi negatif yang mungkin mempengaruhi keputusan konsumen. Bagi pengembang, langkah tersebut merupakan strategi bisnis. Menghilangkan satu nomor lantai tidak mengurangi jumlah lantai sebenarnya, tetapi dapat meningkatkan daya tarik gedung di mata calon penghuni. Salah satu kesalahpahaman yang masih sering muncul adalah anggapan bahwa gedung tersebut benar-benar tidak memiliki lantai keempat. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Secara fisik, lantai tersebut tetap ada dan digunakan sebagaimana mestinya. Yang dihilangkan hanyalah angka pada sistem penomorannya. Misalnya, sebuah gedung memiliki urutan lantai sebagai berikut: Lantai 1 Lantai 2 Lantai 3 Lantai 5 Lantai 6 Meskipun angka 4 tidak terlihat pada tombol lift, lantai setelah lantai 3 sebenarnya adalah lantai keempat secara struktur bangunan. Penomoran hanya diubah agar lebih sesuai dengan preferensi pasar. Dengan kata lain, jumlah lantai gedung tetap sama. Yang berubah hanyalah cara penyebutannya. Fenomena menghindari angka tertentu ternyata tidak hanya berlaku untuk angka 4. Di beberapa negara Barat, angka 13 juga sering dianggap membawa kesialan. Akibatnya, banyak hotel, apartemen, dan gedung perkantoran yang tidak memiliki lantai 13. Setelah lantai 12, nomor berikutnya langsung menjadi lantai 14. Kepercayaan terhadap angka 13 dikenal sebagai triskaidekaphobia. Sama seperti angka 4 di Asia, keyakinan ini telah berkembang selama ratusan tahun dan masih mempengaruhi keputusan sebagian masyarakat hingga sekarang. Menariknya, ada pula gedung yang menghindari kedua angka tersebut sekaligus, terutama bangunan internasional yang melayani tamu dari berbagai negara. Di era modern, teknologi konstruksi telah berkembang sangat pesat. Namun, budaya dan kebiasaan masyarakat tetap menjadi salah satu pertimbangan penting dalam dunia bisnis. Banyak pengembang beranggapan bahwa menghilangkan angka tertentu jauh lebih mudah dibandingkan harus menghadapi persepsi negatif dari calon konsumen. Selain itu, perubahan penomoran tidak memberikan dampak terhadap kualitas bangunan maupun biaya konstruksi secara keseluruhan. Oleh karena itu, banyak perusahaan properti memilih mengikuti kebiasaan yang sudah dikenal masyarakat. Pendekatan ini juga dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya lokal, terutama ketika gedung dibangun di wilayah yang masih memiliki kepercayaan kuat terhadap simbol-simbol tertentu. Tidak semua negara menerapkan kebiasaan ini. Namun, ada beberapa wilayah yang cukup dikenal sering menghilangkan angka 4 dalam penomoran lantai. China menjadi salah satu negara yang paling konsisten menerapkan praktik tersebut. Di berbagai kota besar, banyak hotel, apartemen, rumah sakit, hingga gedung perkantoran yang langsung melompat dari lantai 3 ke lantai 5. Hong Kong juga memiliki kebiasaan serupa. Bahkan, beberapa gedung tidak hanya menghilangkan lantai 4, tetapi juga nomor lantai 14, 24, 34, dan angka lain yang mengandung unsur angka 4. Di Jepang dan Korea Selatan, praktik ini juga cukup umum dijumpai, terutama pada rumah sakit dan hotel. Sementara itu, Singapura dan Malaysia juga masih mempertimbangkan aspek budaya tersebut, khususnya untuk proyek properti yang menyasar masyarakat keturunan Tionghoa. Meski terlihat sederhana, penomoran lantai ternyata mencerminkan bagaimana budaya masih memiliki pengaruh besar dalam kehidupan modern. Di satu sisi, dunia konstruksi terus berkembang dengan teknologi yang semakin canggih. Namun di sisi lain, kebiasaan dan nilai-nilai yang dipercaya masyarakat tetap menjadi pertimbangan dalam merancang sebuah bangunan. Bagi pengembang, memahami budaya lokal merupakan bagian dari strategi untuk menciptakan produk yang dapat diterima oleh berbagai kalangan. Hal-hal kecil seperti nomor lantai, nomor unit, hingga penamaan gedung sering kali dipikirkan secara matang agar sesuai dengan preferensi pasar. Fenomena ini menunjukkan bahwa pembangunan sebuah gedung bukan hanya soal desain dan struktur, tetapi juga tentang memahami karakter masyarakat yang akan menggunakannya. Banyak gedung tidak menggunakan lantai nomor 4 bukan karena alasan teknis atau kesalahan dalam proses pembangunan, melainkan karena pengaruh budaya dan kepercayaan yang berkembang di sejumlah negara Asia. Angka 4 dianggap memiliki pelafalan yang mirip dengan kata "mati" dalam beberapa bahasa sehingga oleh sebagian masyarakat diasosiasikan dengan kesialan. Untuk menghormati budaya sekaligus menyesuaikan diri dengan preferensi pasar, banyak pengembang memilih langsung melompat dari lantai 3 ke lantai 5 pada sistem penomoran. Meski begitu, lantai tersebut tetap ada secara fisik dan digunakan seperti lantai lainnya. Keputusan untuk menghilangkan angka 4 merupakan strategi yang berkaitan dengan aspek psikologis dan pemasaran, bukan dengan kualitas maupun keamanan bangunan. Fenomena ini menjadi contoh bahwa budaya masih memiliki peran penting dalam berbagai keputusan bisnis, termasuk di industri properti dan konstruksi. Jika Anda ingin memiliki hunian yang terjamin aman, nyaman dan juga terpercaya, Anda bisa temukan di Ray White Cikarang. Untuk informasi lebih lanjut silahkan kunjungi website Ray White Cikarang di https://cikarang.raywhite.co.id. Find a home that suits your lifestyle with Ray White!Tradisi dan Kepercayaan
Pengaruh Budaya terhadap Dunia Properti
Tidak Hanya Angka 4 Saja yang Ditiadakan
Negara-Negara yang Sering Menghilangkan Lantai Nomor 4
Fenomena yang Menunjukkan Pengaruh Budaya dalam Kehidupan Modern